BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Untuk
beberapa alasan kita perlu mengetahui lebih mendalam mengenai atom dan stuktur
atom. Atom adalah suatu satuan dasar materi, yang terdiri atas beberapa
struktur. Istilah struktur atom biasanya mencakup bukan hanya distribusi
elektron yang mungkin di sekeliling inti, tetapi juga energi elektron dan
sifat kemagnetannya, entalpi pengionan,
dan sejenisnya, yang bergantung kepada pendistribusiannya.
Dalam
makalah ini, kita akan membahas tentang stuktur atom mulai dari model atom
Bohr, mekanika gelombang sampai dengan bilangan kuantum. Sebelum sampai pada
model atom tersebut, kita telah ketahui bahwa sudah banyak teori model atom
yang disampaikan oleh para ilmuan. Mulai dari teori atom Dalton yang menyatakan
bahwa atom berbentuk bola pejal yang bermuatan positif. Pada tahun 1897, J.J
Thomson menyatakan atom merupakan suatu bola bermuatan positif dan di dalamnya
tersebar elektron-elektron seperti roti kismis. Model Atom Rutherford, atom
terdiri dari inti atom yang sangat kecil dengan muatan positif yang massanya
merupakan massa atom tersebut. Sehingga pada tahun 1913 Neils Bohr mengemukakan
pendapatnya yang merupakan penyempurnaan dari model atom Rutherford. Namun
seiring berjalannya waktu, teori atom Bohr pun tumbang karena ada beberapa
kelemahan yang ditemukan, dan sekarang kita memakai teori mekanika kuantum.
Oleh
karena itu, dalam makalah ini kami mencoba
menguraikan beberapa teori tentang atom, mulai dari teori atom Bohr,
mekanika gelombang sampai dengan bilangan kuantum , dan struktur atom.
1.2 Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah yang menjadi bahasan yang diuraikan dalam makalah ini adalah :
1. Struktur Atom
2. Spektrum Atom dan Teori Bohr
3. Teori Atom Mekanika Gelombang
4. Konfigurasi Elektron
5. Sifat Magnetik dari Atom dan Elektron
6. Keelektronnegatifan
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan utama dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan
yang lebih rinci mengenai struktur atom yang belum diketahui sebelumnya. Sehingga
makalah ini dapat menjadi salah satu sumber referensi bagi para pembaca. Selain
itu, pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas terstruktur dari mata kuliah kimia anorganik.
Dengan
membaca makalah ini, kami berharap banyak manfaat yang anda peroleh yang tidak
hanya sebatas pengetahuan tentang atom, tetapi juga dapat meningkatkan dasar
keimanan kepada Allah SWT yang telah menciptakan suatu partikel yang sangat kecil tetapi memberikan
manfaat yang sangat besar kepada
hambaNya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Spektrum
Atom
Kelemahan dari teori atom Rutherford
tidak dapat menjelaskan kestabilan elektron mengelilingi inti dipecahkan dalam
teori Bohr.Teori ini mengacu pada spektrum atom hidrogen yang mempunyai
garis-garis tertentu. Tiap garis mempunyai hubungan dengan tingkat energi
elektron dalam atom.
Spektrum
merupakan hasil yang diperoleh bila suatu berkas energi radiasi dibagi-bagi kedalam panjang-panjang gelombang
komponennya. Jika radiasi yang terbagi-bagi itu berasal dari atom yang
tereksitasi maka spektrum itu disebut spektrum atom. Berdasarkan bentuknya
spektrum dibagi 2, yaitu : spektrum
kontinou dan spektrum diskontinou.
Spektrum kontinou adalah spektrum sinar yang mengandung semua jenis gelombang
yang ada didaerah tertentu, sehingga terlihat seperti sambung-menyambung dan
tidak ada bagian yang kosong, contohnya Pelangi. Spektrum diskontinou adalah
spektrum yang hanya mengandung gelombang tertentu, sehingga terdapat daerah
kosong. Spektrum jenis ini terbagi dua, yakni: spectrum emisi dan spectrum
absorpsi. Spektrum emisi di peroleh dengan cara pemanasan atau eksitasi
secara listrik. Atom dalam keadaan eksitasi memancarkan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu atau menghasilkan spektrum garis. Spektrum absorbsi
diperoleh bila berkas cahaya putih dilewatkan melalui uap atom. Dari berkas
sinar yang diteruskan menunjukkan ada panjang gelombang tertentu diserap ketika
elektron dieksitasikan ke tingkat energi lebih tinggi. Spektrum absorbsi tampak
sebagai garis-garis hitam dibalik warna spektrum sinar tampak.
spektrum kontinu
spektrum
gas hidrogen
Dari sekian banyak atom, yang paling
banyak ditelaah selama abad sembilan belas adalah unsur hidrogen. Spektrum
tampak dari unsur hidrogen relatif sederhana, terdiri dari sebuah garis merah,
sebuah garis hijau, dan sejumlah garis-garis biru dan lembayung yang nampak
semakin mengumpul pada batas lembayung. Empat garis yang pertama diteliti oleh Ångstrom.
Pada tahun 1885, seorang ahli fisika
swiss bernama Johann Balmer, menggunakan keempat nilai panjang gelombang
tersebut melalui cara coba-coba berhasil menurunkan rumus sebagai berikut:
dimana n = 3,4,5,...
Rumus yang paling umum untuk persamaan
Balmer adalah sebagai berikut
v
=
R
adalah
konstanta numerikyang dikenal dengan konstanta Rydberg, besarnya 10.967.800 m-1;
c adalah keepatan cahaya 2,997925 x
108 m det-1 (petrucci : 1985).
Ditemukan deret lain di daerah
ultraviolet dan inframerah. Deret ini diberi nama sesuai dengan penemunya.
Deret ultraviolet (Lymen) :
n=2, 3, 4, 5, . . .
Deret inframerah (Paschen) :
n = 4, 5, 6, 7,. . .
Rumus- rumus tersebut dikembangkan oleh
Rydberg, mengandung tetapan empirik, R yang sama dengan 109.678 cm-1.
Jelaslah bahwa garis-garis itu merupakan kasus khusus dengan rumus umum:
;
m=1,2,3,4,. . . ; n= (m+1), (m+2), (m+3), . . . (cotton :2009)
Teori
Kuantum
Teori ini diajukan pleh Max Planck pada
tahun 1990, untuk menjelaskan suatu gejala yang dikenal dengan radiasi benda
hitam, yaitu pancaran radiasi elektromagnetik dari benda-benda yang dipanaskan.
Hipotesis Planck mengenai energi mengatakan bahwa energi tak bersifat tak
kontinu (discontinue) seperti hal nya benda-benda lain, dan terdiri dari banyak
satuan terpisah yang sangat kecil yang dinamakan kuantum. Energi yang dikaitkan
dengan kuantum dari radiasi elektromagetik sebanding dengan frekuensi radiasi
dan dinyatakan dengan E = hv ,
konstanta h dinamakan konstanta Planck yang besarnya adalah 6,626 x 10-34
J det.
Pada tahun 1905 Einstein mengajukan bahwa
radiasi elektromagnetik mempunyai sifat seperti partikel dan bahwa “partikel” cahaya
yang dinamkan foton, mempunyai energi
yang khas sesuai dengan persamaan Planck, E = hv untuk menerangkan efek fotolistik.
B. Model
Atom Bohr
Pada tahun 1913, pakar fisika Denmark bernama Neils
Bohr memperbaiki kegagalan atom Rutherford melalui percobaannya tentang
spektrum atom hidrogen. Percobaannya ini berhasil memberikan gambaran keadaan
elektron dalam menempati daerah disekitar inti atom. Penjelasan Bohr tentang
atom hidrogen melibatkan gabungan antara teori klasik dari Rutherford dan teori
kuantum dari Planck, diungkapkan dengan empat postulat, sebagai berikut:
1. Hanya ada seperangkat orbit tertentu
yang diperbolehkan bagi satu elektron dalam atom hidrogen. Orbit ini dikenal
sebagai keadaan gerak stasioner (menetap) elektron dan merupakan lintasan
melingkar disekeliling inti.
2. Selama elektron berada dalam
lintasan stasioner, energi elektron tetap sehingga tidak ada energi dalam
bentuk radiasi yang dipancarkan maupun diserap.
3. Elektron hanya dapat berpindah dari
satu lintasan stasioner ke lintasan stasioner lain. Pada peralihan ini,
sejumlah energi tertentu terlibat, besarnya sesuai dengan persamaan planck, ΔE
= hv.
4. Lintasan stasioner yang dibolehkan
memilki besaran dengan sifat-sifat tertentu, terutama sifat yang disebut momentum
sudut. Besarnya momentum sudut merupakan kelipatan dari h/2∏ atau nh/2∏,
dengan n adalah bilangan bulat dan h tetapan planck.
Menurut
model atom bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan
tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat
energi. Tingkat energi paling rendah adalah kulit elektron yang terletak
paling dalam, semakin keluar semakin besar nomor kulitnya dan semakin tinggi
tingkat energinya.
Ia juga
mengajukan suatu persyaratan. Pada setiap orbit momentum sudut dari elektron,mv, harus terkuanta, yaitu harus
mempunyai nilai yang diberikan oleh rumus : mvr =
dimana n = 1, 2, 3, 4, . . .
Dalam hal
ini m,v, r dan h adalah massa dan laju elektron, jari-jari orbit, dan tetapan
Planck, n disebut bilangan kuantum orbit, dan harus berupa
bilangan bulat. Kedua syarat ini – orbit stabil dan kondisi terkuanta –
benar-benar bertentangan dengan dan samasekali barada di luar teori fisika yang
diterima saat itu. Namun dengan asumsi ini, dan menerapkan seluruh sisa konsep
fisika yang lain sepenuhnya secara tradisional, telah ditentukan bahwa bagi
setiap orbit, energi dan jari-jari deberikan oleh rumus
Himpunan
tetapan pada rumus E sama dengan nilai tetapan Rydberg. Secara singkat, Bohr mendapatkan
Model Bohr
yang dikembangkan oleh Sommerfeld, menunjukkan bahwa garis-garis halus pada
spektrum atom hidrogen yang tampak bila ada medan magnet, juga dapat
diterangkan apabila digunakan baik orbit-orbit ellips maupun orbit-orbit lingkaran
(cotton:2009)
Keberhasilan
teori Bohr terletak dalam kemampuannya untuk meramalkan garis-garis dalam
spektrum atom hidrogen. Tetapi salah satu penemuan pada waktu itu adalah juga
sekumpulan gari-garis halus, terutama jika atom-atom yang dieksitasikan
diletakkan dalam medan magnet. Yaitu, beberapa garis utama yang ditemukan
saling berdekatan. Stuktur yang halus dalam pektum hidrogen ini dijelaskan
melalui modifikasi teori Bohr. Tetapi, teori ini tak pernah berhasil memerikan
spektrum atom selain hidrogen, dan tidak mampu pula menerangkan kemampuan atom
membentuk molekul melalui ikatan kimia.
Dualisme
Gelombang – Partikel
Pada tahun 1905, einstein membuat kejelasan mengenai
sifat cahaya
C. Model Atom Mekanika Gelombang
Pada
tahun 1924, Louis de Broglie ahli fisika Prancis pemenang hadiah Nobel
tahun 1929, menyimpulkan bahwa elektron dalam atom dapat dipandang sebagai
partikel dan gelombang. Sebagai akibat dualistis sifat elektron, Heisenberg
pemenang hadiah nobel untuk bidang fisika tahun 1926 mengemukakan azas
ketidakpastian, yakni tidak mungkin mengetahui secara bersamaan kedudukan dan
kecepatan gerak elektron.
Dengan
alasan ini lintasan elektron yang digambarkan Bohr tidak mungkin ada. Yang
dapat dikatakan adalah elektron dalam atom mempunyai kebolehjadian ditemukan
dalam ruang-ruang tertentu dalam atom yang disebut orbital. Gagasan bahwa
elektron berada dalam orbital-orbital di seputar inti atom merupakan model atom
yang mutakhir.
Hasil
analisis Heisenberg, yaitu selalu terdapat ketidakpastian dalam menentukan
kedudukan elektron yang dirumuskan sebagai hasil kali ketidakpastian kedudukan x
dengan momentum p. Satu hal yang perlu diingat adalah hasil kali
keduanya harus sama atau lebih besar dari tetapan Planck. Persamaan ini dikenal
sebagai prinsip ketidakpastian Heisenberg yang dirumuskan sebagai berikut:
Δx =
ketidakpastian kedudukan
Δp =
ketidakpastian momentum
h
= tetapan Planck
Pada
tahun 1926, Erwin Schrodinger seorang ahli fisika Austria pemenang
hadiah nobel untuk bidang fisika tahun 1933, berhasil merumuskan persamaan
gelombang untuk menggambarkan gerakan elektron dalam atom. Energi dan bangun
ruang orbital-orbital sebagaimana yang telah kita pelajari, diturunkan
berdasarkan perhitungan dengan menggunakan persamaan gelombang Schrodinger.
Berdasarkan
teori yang disampaikan oleh Schrodinger, diketahui bahwa elektron menempati
lintasan yang tidak pasti sehingga electron berada pada berbagai jarak dari
inti atom dan berbagai arah dalam ruang. Jadi, daerah pada inti atom dengan
kemungkinan terbesar ditemukannya elektron dikenal sebagai orbital.
1.
Teori Atom Mekanika
Kuantum
Model atom
mekanika kuantum dikembangkan oleh Erwin Schrodinger (1926).Sebelum Erwin
Schrodinger, seorang ahli dari Jerman Werner Heisenberg mengembangkan teori
mekanika kuantum yang dikenal dengan prinsip ketidakpastian yaitu “Tidak
mungkin dapat ditentukan kedudukan dan momentum suatu benda secara seksama pada
saat bersamaan, yang dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron
pada jarak tertentu dari inti atom”..
Daerah ruang di sekitar inti dengan kebolehjadian untuk mendapatkan elektron disebut orbital. Bentuk dan tingkat energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger.
Persamaan Schrodinger
Daerah ruang di sekitar inti dengan kebolehjadian untuk mendapatkan elektron disebut orbital. Bentuk dan tingkat energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger.
Persamaan Schrodinger
x,y dan z = Posisi dalam tiga dimensi
Y = Fungsi gelombang
m = massa
ђ = h/2p dimana h = konstanta plank dan p = 3,14
E = Energi total
V = Energi potensial
Y = Fungsi gelombang
m = massa
ђ = h/2p dimana h = konstanta plank dan p = 3,14
E = Energi total
V = Energi potensial
Model atom dengan orbital lintasan
elektron ini disebut model atom modern atau model atom mekanika kuantum yang
berlaku sampai saat ini, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Awan elektron disekitar inti menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital menggambarkan tingkat energi elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau hampir sama akan membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk kulit.
Awan elektron disekitar inti menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital menggambarkan tingkat energi elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau hampir sama akan membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk kulit.
Dengan demikian kulit terdiri dari
beberapa sub kulit dan subkulit terdiri dari beberapa orbital. Walaupun posisi
kulitnya sama tetapi posisi orbitalnya belum tentu sama.
2.
Bilangan Kuantum
Dalam mekanika kuantum,
tiga bilangan
kuantum (quantum number)
diperlukan untuk menggambarkan distribusi
electron dalam atom hydrogen dan atom-atom lain. Bilangan-bilangan ini
diturunkan dari solusi matematis persamaan Schrӧdinger untuk atom hidrogen.
Bilangan-bilangan kuantum ini disebut bilangan
kuantum utama, bilangan kuantum momentum sudut, dan bilangan magnetik. Bilangan-bilangan
ini akan digunakan untuk menggambarkan orbital-orbital atom dan menandai
electron-elektron di dalamnya. Bilangan kuantum keempat-bilangan kuantum spin- menggambarkan perilaku elektron tertentu
dan melengkapi gambaran tentang elektron dalam atom.
3.
Macam-Macam Bilangan Kuantum
Bilangan
kuantum utama
Bilangan
kuantum utama (primer) digunakan untuk menyatakan tingkat energi utama yang
dimiliki oleh elektron dalam sebuah atom. Bilangan kuantum utama tidak pernah
bernilai nol. Semakin tinggi nilai n semakin tinggi pula energi elektron.
Untuk sebuah atom, nilai bilangan kuantum utama berkisar dari 1 ke tingkat energi yang mengandung elektron terluar. Bilangan kuantum utama mempunyai nilai sebagai bilangan bulat positif 1, 2, 3, dst. Nilai-nilai tersebut melambangkan K, L, M, dst.
Untuk sebuah atom, nilai bilangan kuantum utama berkisar dari 1 ke tingkat energi yang mengandung elektron terluar. Bilangan kuantum utama mempunyai nilai sebagai bilangan bulat positif 1, 2, 3, dst. Nilai-nilai tersebut melambangkan K, L, M, dst.
|
Kulit
|
K
|
L
|
M
|
N
|
O
|
|
Nilai n
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Bilangan
kuantum azimut
Bilangan
kuantum azimut sering disebut dengan bilangan kuantum angular (sudut). Energi
sebuah elektron berhubungan dengan gerakan orbital yang digambarkan dengan
momentum sudut. Momentum sudut tersebut dikarakterisasi menggunakan bilangan
kuantum azimut. Bilangan kuantum azimut menyatakan bentuk suatu orbital dengan
simbol ℓ.
Bilangan kuantum azimut juga berhubungan dengan jumlah subkulit. Nilai ini menggambarkan subkulit yang dimana elektron berada. Untuk subkulit s, p, d, f, bilangan kuantum azimut berturut-turut adalah 0, 1, 2, 3.
Bilangan kuantum azimut juga berhubungan dengan jumlah subkulit. Nilai ini menggambarkan subkulit yang dimana elektron berada. Untuk subkulit s, p, d, f, bilangan kuantum azimut berturut-turut adalah 0, 1, 2, 3.
Bilangan
kuantum magnetik
Bilangan
kuantum magnetik menyatakan tingkah laku elektron dalam medan magnet. Tidak
adanya medan magnet luar membuat elektron atau orbital mempunyai nilai n dan ℓ
yang sama tetapi berbeda m. Namun dengan adanya medan magnet, nilai tersebut
dapat sedikit berubah. Hal tersebut dikarenakan timbulnya interaksi antara
medan magnet sendiri dengan medan magnet luar.
Bilangan kuantum magnetik ada karena momentum sudut elektron, gerakannya berhubungan dengan aliran arus listrik. Karena interaksi ini, elektron menyesuaikan diri di wilayah tertentu di sekitar inti. Daerah khusus ini dikenal sebagai orbital. Orientasi elektron di sekitar inti dapat ditentukan dengan menggunakan bilangan kuantum magnetik m.
Bilangan kuantum magnetik ada karena momentum sudut elektron, gerakannya berhubungan dengan aliran arus listrik. Karena interaksi ini, elektron menyesuaikan diri di wilayah tertentu di sekitar inti. Daerah khusus ini dikenal sebagai orbital. Orientasi elektron di sekitar inti dapat ditentukan dengan menggunakan bilangan kuantum magnetik m.
Bilangan
kuantum spin
Bilangan
kuantum spin menyatakan momentum sudut suatu partikel. Spin mempunyai simbol s atau sering ditulis
dengan ms (bilangan kuantum spin magnetik). Suatu elektron dapat
mempunyai bilangan kuantum spin s = +½ atau –½.
Nilai positif atau negatif dari spin menyatakan spin atau rotasi partikel pada sumbu. Sebagai contoh, untuk nilai s = +½ berarti berlawanan arah jarum jam (ke atas), sedangkan s = -½ berarti searah jarum jam (ke bawah). Diambil nilai setengah karena hanya ada dua peluang orientasi, yaitu atas dan bawah. Dengan demikian, peluang untuk mengarah ke atas adalah 50% dan peluang untuk mengarah ke bawah adalah 50% .
Nilai positif atau negatif dari spin menyatakan spin atau rotasi partikel pada sumbu. Sebagai contoh, untuk nilai s = +½ berarti berlawanan arah jarum jam (ke atas), sedangkan s = -½ berarti searah jarum jam (ke bawah). Diambil nilai setengah karena hanya ada dua peluang orientasi, yaitu atas dan bawah. Dengan demikian, peluang untuk mengarah ke atas adalah 50% dan peluang untuk mengarah ke bawah adalah 50% .
4. Orbital Atom
Elektron hidrogen – orbital 1s
Bayangkan kita memiliki satu atom
hidrogen dan menentukan posisi elektronnya pada suatu waktu tertentu. Segera
sesudahnya, kita kembali menentukan posisi elektron ini, dan kita mendapati
elektron itu sudah ada di posisi yang berbeda. Kita tidak mengerti bagaimana
elektron ini berpindah dari posisi yang pertama ke posisi yang kedua.
Dalam kasus elektron hidrogen,
elektron dapat ditemukan di manapun di sekeliling nukleus. Diagram
menunjukkan kemungkinan dari posisi elektron yang membentuk ruang wilayah yang
mengelilingi nukleus.
Pada 95% dari hasil pengamatan,
elektron dapat ditemukan dalam suatu ruang wilayah yang relatif dekat dengan
nukleus. Wilayah dari ruang tersebut kita sebut dengan orbital.
Kita dapat beranggapan bahwa orbital merupakan suatu ruang wilayah di mana elektron itu bergerak di dalamnya.
Kita dapat beranggapan bahwa orbital merupakan suatu ruang wilayah di mana elektron itu bergerak di dalamnya.
Tiap orbital memilki nama :
Orbital yang dihuni oleh elektron
hidrogen disebut dengan orbital 1s. Angka “1” menunjukkan
bahwa orbital tersebut memiliki tingkat energi yang terdekat dengan nukleus.
Huruf “s” menunjukkan bentuk dari orbital tersebut. Orbital s berbentuk bulat
simetris yang mengelilingi nukleus.
Orbital di sebelah kiri merupakan
orbital 2s. Bentuknya sama dengan orbital 1s kecuali ruang wilayahnya yang
lebih jauh dari nukleus – di mana letaknya pada tingkat energi kedua.
Elektron-elektron 2s ( dan juga 3s,
4s ) berada dalam posisi dekat dengan nukleus daripada yang mungkin kita
bayangkan. Efek dari ini adalah pengurangan energi dari elektron dalam orbital
s. Semakin dekat elektron dengan nukleus, semakin rendah energinya.
orbital p
Tidak semua elektron memiliki sifat seperti
orbital s. Pada tingkat energi pertama, orbital hanya terdiri dari orbital 1s,
tetapi ketika kita memasuki tingkat energi kedua, selain daripada orbital 2s,
kita akan menemukan orbital 2p. Orbital p berbentuk seperti 2 buah balon
yang identik yang diikat di tengahnya. Gambar di sebelah kiri menunjukkan
adanya titik yang membagi ruang wilayah. Perlu diingat, orbital menunjukkan 95%
kemungkinan elektron itu berada.
Tidak seperti orbital s, orbital p memiliki arah tertentu – pertama yang mengarah ke atas dan yang mengarah ke bawah.
Tidak seperti orbital s, orbital p memiliki arah tertentu – pertama yang mengarah ke atas dan yang mengarah ke bawah.
Pada tiap tingkat energi ada
kemungkinan terdapat 3 orbital p yang arahnya saling tegak lurus satu sama
lain. Arah dari tiap orbital p ini diberi simbol px, py
dan pz. x, y dan z merupakan koordinat dari orbital-orbital
tersebut.
Orbital p pada tingkat energi kedua
disebut dengan 2px, 2py dan 2pz. Begitu juga
pada orbital lainnya 3px, 3py dan 3pz, maupun
4px, 4py dan 4pz dan seterusnya.
Seluruh tingkat energi selain dari
tingkat energi pertama memiliki orbital p. Pada energi level yang lebih tinggi
bentuk dari balon akan semakin lonjong, yang berarti kemungkinan elektron
berada akan semakin jauh dari nukleus.
orbital d dan f
Selain daripada orbital s dan p,
terdapat dua bentuk orbital lainnya di mana elektron berada pada tingkat energi
yang lebih tinggi. Pada tingkat energi ketiga, kita akan menemukan 5 bentuk
dari orbital d ( dengan bentuk dan penamaan yang lebih rumit ), dan
tentunya juga orbital 3s dan orbital 3p (3px, 3py dan 3pz).
Pada tingkat energi ketiga kita akan menemukan total 9 orbital.
Pada tingkat energi keempat, selain
daripada orbital 4s , 4p dan 4d , kita juga akan menemukan tambahan 7 buah
orbital f – dengan total 16 orbital. Orbital s, p, d dan f memiliki
tingkat energi
D. SPIN
ELEKTRON, PRINSIP EKSKLUSI, KONFIGURASI ELEKTRON
1. Spin
Elektron
Orbital elektron dan
tingkat energi dari sistem elektron banyak diklasifikasikan menjadi 1s, 2s, 2p,
3s, 3p, 3d, dan seterusnya dalam kasus atom-atom hidrogenik. Masalahnya adalah
bagaimana elektron-elektron tersebut didistribusikan ke dalam orbital elektron.
Apakah seluruh elektron digabungkan ke dalam orbital yang paling stabil yaitu
orbital 1s dengan energi terendahnya? Kesimpulan dari teori kuantum adalah
bahwa hanya ada dua elektron yang dapat menempati orbital yang sama. Aturan ini
berkaitan dengan momentum sudut khusus yang disebut sebagai spin elektron.
Sambil beredar
mengelilingi inti, electron juga berputar pada sumbunya. Gerak berputar pada
sumbu inti disebut dengan rotasi. Hanya ada dua kemungkinan arah rotasi
elektron, yaitu searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Kedua arah
yang berbeda itu dinyatakan dengan
bilangan kuantum spin (s)
dengan nilai s = +
dan s =
-
.
Spin electron merupakan
hal penting dalam memahami struktur electron dari atom multi electron. Pada tahun
1925 juga, seorang ilmuwan kelahiran Austria, yaitu Wolfgang Pauli menemukan
prinsip yang mengatur penataan electron
dalam atom multi electron. Penemuan
Pauli yang disebut dengan Azas Larangan
Pauli. Azas ini menyatakan bahwa, dalam satu atom tidak boleh ada dua electron yang mempunyai keempat
bilangan kuantum (n, l, m, dan s) yang sama.
2. Prinsip
Eksklusi
Dalam tahun 1925,
wolf gang pauli menemukan prinsip pokok yang mengatur konfigurasi elektronik
atom yang memiliki lebih dari satu electron. Prinsip eksklusinya (larangannya)
menyatakan bahwa tidak terdapat dua electron dalam sebuah atom yang dapat
berada dalam keadaan kuantum yang sama. Masing-masing electron dalam sebuah
atom harus memiliki sebuah kumpulan bilangan kuantum n, l, ml, m8 yang berbeda.
Pauli menemukan
prinsip eksklusi ketika ia mempelajari spectrum atomic. Kita bisa menentukan
berbagai keadaan sebuah atom dari spektrumnya, dan bilangan kuantum keadaan ini
dapat di cari. Dalam spectrum setiap unsur selain hydrogen, tidak terdapat sejumlah
garis. Garis ini bersesuaian dengan transisi dari dan keadaan yang memiliki
kombinasi bilangan kuantum tertentu. Jadi, dalam helium tidak teramati dari ke
konfigurasi keadaan dasar dengan kedua spin electron berarah sama
sehingga menghasilkan spin total 1, walaupun transisi dari dan ke konfigurasi
keadaan-dasar dengan spin electron berlawanan sehingga spin totalnya nol,
teramati.
Pada keadaan yang
absen (tidak ada), bilangan kuantum kedua electron harus sama dengan n = 1, l =
0, ml = 0, ms = ½ , sedangakan dalam
keadaan yang ada, satu electron memiliki ms = ½ dan yang lainnya ml = - ½ . pauli menunjukan
setiap keadaan atomic yang tak teramati mengandung dua tau lebih electron
dengan bilangan kuantum yang identik, dan prinsip eksklusi merupakan pernyataan
dari hasil eksperimen tersebut.
Dengan adanya
perbatasan jumlah electron dalam satu orbital, maka jumlah maksimum electron
pada setiap subkulit sama dengan dua kali jumlah orbitalnya.
Subkulit s (1 orbital) maksimum 2 elektron
Subkulit p (3 orbital) maksimum 6 elektron
Subkulit d (5 orbital) maksimum 10 elektron
Subkulit f (7 orbital) maksimum 14 elektron
Oleh karena itu,
jumlah orbital pada kulit ke-n = n2, maka jumlah maksimum
electron pada kulit ke-n = 2n2.
Berdasarkan azas
Larangan Pauli, maka setiap electron dalam satu atom mempunyai satu set
bilangan kuantum (n, l, m, dan s)
yang spesifik. Keempat bilangan kuantum tersebut menentukan daerah dalam ruang
tempat suatu electron paling mungkin berada.
Bilangan kuantum utama (n) menunjukkan kulit atomnya
Bilangan kuantum azimut (l) menunjukkan subkulitnya
Bilangan kuantum magnetik (ml) menunjukkan kulit
orbitalnya
Bilangan kuantum spin (s menunjukkan spinnya
3. Konfigurasi
Elektron
Hubungan antara orbital dengan tabel periodik
Kita akan melihat bagaimana cara
menuliskan konfigurasi elektron sampai pada orbital d. Halaman ini akan
menjelaskan konfigurasi berdasarkan tabel periodik sederhana di atas ini dan
selanjutnya pengaplikasiannya pada konfigurasi atom yang lebih besar.
Periode Pertama
Hidrogen hanya memiliki satu
elektron pada orbital 1s, kita dapat menuliskannya dengan 1s1
dan helium memiliki dua elektron pada orbital 1s sehingga dapat dituliskan dengan
1s2
Periode
kedua
Sekarang kita masuk ke level kedua,
yaitu periode kedua. Elektron litium memenuhi orbital 2s karena orbital ini
memiliki energi yang lebih rendah daripada orbital 2p. Litium memiliki
konfigurasi elektron 1s22s1. Berilium memiliki
elektron kedua pada level yang sama – 1s22s2.
Sekarang kita mulai mengisi level
2p. Pada level ini seluruhnya memiliki energi yang sama, sehingga elektron akan
menempati tiap orbital satu persatu.
B
1s22s22px1
C 1s22s22px12py1
N 1s22s22px12py 12pz1
C 1s22s22px12py1
N 1s22s22px12py 12pz1
Elektron selanjutnya akan membentuk
sebuah pasangan dengan elektron tunggal yang sebelumnya menempati orbital.
O
1s22s22px22py12pz1
F 1s22s22px22py22pz1
Ne 1s22s22px22py 22pz2
F 1s22s22px22py22pz1
Ne 1s22s22px22py 22pz2
Kita dapat melihat di sini bahwa
semakin banyak jumlah elektron, semakin merepotkan bagi kita untuk menuliskan
struktur elektron secara lengkap. Ada dua cara penulisan untuk mengatasi hal
ini dan kita harus terbiasa dengan kedua cara ini.
Cara singkat pertama : Seluruh variasi orbital p dapat dituliskan secara
bertumpuk. Sebagai contoh, flor dapat ditulis sebagai 1s22s22p5,
dan neon sebagai 1s22s22p6.
Penulisan ini biasa dilakukan jika
elektron berada dalam kulit dalam. Jika elektron berada dalam keadaan berikatan
(di mana elektron berada di luar atom), terkadang ditulis dalam cara singkat,
terkadang dengan cara penuh.
Sebagai contoh, walaupun kita belum
membahas konfigurasi elektron dari klor, kita dapat menuliskannya sebagai 1s22s22p63s23px23p
y23pz1.
Perhatikan bahwa elektron-elektron
pada orbital 2p bertumpuk satu sama lain sementara orbital 3p dituliskan secara
penuh. Sesungguhnya elektron-elektron pada orbital 3p terlibat dalam
pembentukan ikatan karena berada pada kulit terluar dari atom, sementara
elektron-elektron pada 2p terbenam jauh di dalam atom dan hampir bisa dikatakan
tidak berperan sama sekali.
Cara singkat kedua : Kita dapat menumpukkan seluruh elektron-elektron
terdalam dengan menggunakan, sebagai contoh, simbol [Ne]. Di dalam konteks ini,
[Ne] berarti konfigurasi elektron dari atom neon -dengan kata lain 1s22s22px22py22p
z2.
Berdasarkan cara di atas kita dapat
menuliskan konfigurasi elektron klor dengan [Ne]3s23px23py23pz
1.
Periode ketiga
Mulai dari neon, seluruh orbital
tingkat kedua telah dipenuhi elekton, selanjutnya kita harus memulai dari
natrium pada periode ketiga. Cara pengisiannya sama dengan periode-periode
sebelumnya, kecuali adalah sekarang semuanya berlangsung pada periode ketiga.
Permulaan periode keempat
Sampai saat ini kita belum mengisi
orbital tingkat 3 sampai penuh – tingkat 3d belum kita gunakan. Tetapi kalau
kita melihat kembali tingkat energi orbital-orbital, kita dapat melihat bahwa
setelah 3p energi orbital terendah adalah 4s – oleh karena itu elektron
mengisinya terlebih dahulu.
|
K
|
1s22s22p63s23p6
4s1
|
|
Ca
|
1s22s22p63s23p6
4s2
|
Bukti kuat tentang hal ini ialah
bahwa elemen seperti natrium ( 1s22s22p63s1
) dan kalium ( 1s22s22p63s23p64s
1 ) memiliki sifat kimia yang mirip.
Elektron terluar menentukan sifat
dari suatu elemen. Sifat keduanya tidak akan mirip bila konfigurasi elektron
terluar dari kalium adalah 3d1.
E.
STRUKTUR
ATOM DENGAN BANYAKNYA ELEKTRON
Susunan orbital-orbital dari atom
berelektron banyak serupa dengan atom hidrogen. Perbedaan yang utama terletak
dalam hal urutan tingkat energi orbital-orbital tersebut. Dalam atom hidrogen,
atau spesi yang hanya mempunyai satu elektron, tingkat energi orbital hanya
ditentukan oleh bilangan kuantum utama (n)-nya. Jadi semua orbital dari kulit
yang sama mempunyai tingkat energi yang sama pula. Sementara itu, dalam atom
atau spesi multi elektron, adanya tolak menolak antar elektron membuat
pemisahan tingkat energi diantara subkulit dalam satu kulit.
Pertanyaan cara konfigurasi elektron
menyusun keadaan dasar atom bagi setiap unsur. Hal ini ditentukan secara
sistematik dengan membangun konfigurasi menurut naiknya nomor atom. Pada
pengerjaannya prinsip eksklusi perlu diamati (tidak lebih dari dua elektron
setiap orbital), dan setiap tambahan elektron harus diperuntukkan bagi orbital
energi terendah yang belum terisi. Keadaan dasar hidrogen adalah 1s1.
Bagi helium, elektron lain dapat ditempatkan pada orbital yang sama, memberikan
1s2. Kulit utama yang pertama (n=1) sekarang terisi penuh. Unsur
berikutnya, lithium, mempunyai elektron ketiga yang diperuntukkan bagi orbital
terendah berikutnya, 2s, dan konfigurasinya adalah 1s22s1.
Sekarang dijumpai pertama-tama suatu fakta penting, yaitu orbital-orbital dalam
bilangan kuantum utama sama, tidak memiliki energi sama pada atom berelektron
banyak, walaupun memang demikian halnya pada atom hidrogen. Akan dipelajari
alasannya secara terinci bagi kasus orbital-orbital 2s dan 2p. Alasan dasar
bagi terjadinya pemisahan berbagai jenis orbital dengan n nama (misal 3s dari
3p dan 3d) selalu sama, dan sekali hal tersebut dipahami bagi kasus tertentu,
untuk kasus lain pada dasarnya bisa dipahami juga.
Dari
gambar diatas dapat dilihat bahwa tingakat energy orbital 2s lebih rendah
daripada orbital 2p.
Menurut hund, pada pengisian orbital
orbital dengan timgkat energi yang sama, yaitu orbital-orbital dalam satu
subkulit, mula-mula elektron akan menempati orbital secara sendiri-sendiri
dengan spin yang parallel, baru kemudian berpasangan. Hal ini akan meminimalkan
tolak menolak antara elektron tersebut.
F. Elektronegatifitas
Keelektronegatifan
merupakan ukuran empiris mengenai kecenderungan atom dalam molekul untuk
menarik electron. Elektronegativitas memberikan kemampuan suatu atom dalam
bersaing mendapatkan electron, dengan atom lain yang berikatan.
Elektronegatifitas berhubungan dengan energy ionisasi dan afinitas electron,
karena kedua besaran ini mencerminkan kemampuan atom melepaskan atau memperoleh
sebuah electron.
Skala elektronegativitas yang digunakan secara
luas didasarkan pada penilaian energy ikatan, yang dikemukakan oleh Pauling.
Elektronegativitas Pauling tidak mempunyai satuan, berkisar dari 1 untuk logam
yang sangat tidak aktif, sampai 3,98 untuk flour, yaitu bukan logam yang paling
aktif. Pauling menyarankan bahwa bila dua atom, A dan B memiliki
keelektronegatifan sama, maka kuat ikatan A dan B harus sama dengan rata rata
energy ikatan A-A dan B-B, karena electron-elektron dalam ikatan akan sama-sama
digunakan dalam iktan kovalen murni dalam ketiga kasus. Kebanyakan ikatan A-B,
energinya melampaui rata-rata geometris, karena umumnya dua atom yang berbeda
mempunyai keelektronegatifan yang berlainan, dan terdapat sumbangan sifat ion
kepada ikatan sebagai tambahan dari sifat kovalen. Ia mengusulkan bahwa
kelebihan energy ikatan A-B dapat digunakan sebagai dasar empiris untuk
menentukan selisih keelektronegatifan.
G. Sifat
Magnetik dari atom dan ion
Setiap
atom, ion, atau molekul yang memiliki satu atau lebih elekron tidak berpasangan
adalah paramagnetic (setiap materi dimana ia terdapat akan ditarik ke dalam
medan magnet). Atom-atom atau ion-ion yang letaknya berdekatan akan melakukan
interaksi dan khususnya diamati bentuk kemagnetan yang lebih rumit, yaitu
feromagnetik dan antiferomagnetik. Sedangkan diamagnetic merupakan atom-atom
yang memiliki electron berpasangan dengan medan magnetic yang menyebabkan atom tersebut ditolak oleh medan
magnet.
Elektron
yang bergerak, baik berupa gerakan orbital atau karena rotasi (spin), dapat
disamakan dengan aliran listrik yang sangat kecil. Pada atom yang orbital
electronnya terisi dengan electron yang berpasangan, efek magnetiknya saling
meniadakan dan atom tersebut menunjukkan paramagnetisme. Makin banyak electron
tak berpasangan dalam atom maka makin kuat gaya tarik medan magnet yang
dialaminya
Pengukuran
sifat magnetic adalah metode percobaan yang membantu penetapan konfigurasi
electron dalam atom dan ion. Misalnya atom besi diduga mempunyai konfigurasi
electron.
Jika
atom besi kehilangan dua electron 4s-nya membentuk ion Fe2+, dapat
diduga ion tersebut mengandung empat electron tak berpasangan. Percobaan
membuktikan sifat paramagnetisme pada padatan yang mengandung Fe2+,
ramalan sesuai dengan percobaan, yaitu adanya lima electron tak berpasangan.
Kekuatan
pengukuran magnetic berasal dari fakta bahwa besarnya suspectibilitas magnetic,
yang merupakan ukuran gaya yang dikeluarkan oleh medan pada satuan massa
contoh, dihubungkan dengan banyaknya electron tidak berpasangan yang ada dalam
setiap satuan bobot dan karenanya dalam setiap mol.
Paramagnetis
suatu zat yang mengandung electron-elektron tidak berpasangan menerima
sumbangan dari gerakan orbital electron tidak berpasangan maupun dari spinnya.
Namun terdapat kasus penting dimana sumbangan spin begitu menonjol, sehingga
harga suspectibilitas yang terukur dapat diartikan sebagai petunjuk berapa
banyak electron yang tidak berpasangan. Hubungan ini dinyatakan dengan besaran
yang disebut momen magnetic (µ), yang
dapat dihitung dari suspectibilitas per mol yang terukur, χM.
Pierre
Curie menyatakan bahwa sebagian besar zat paramagnetic, suspectibilitas
magnetiknya berubah secara terbalik dengan suhu mutlak. Dengan kata lain, χMkor
x T adalah suatu ketetapan yang disebut tetapan Curie bagi zat. Jika
suspectibilitas magnetic disebabkan oleh adanya atom-atom atau ion-ion
paramagnetic yang bebas dalam zat, masing-masing dengan momen dipole magnetic,
maka berlaku persamaan:
|
µ = 2,84
|
Sekarang
dapat ditunjukkan dari teori kuantum mengenai atom dan ion bahwa momen magnetic
yang semata-mata disebabkan oleh n electron tidak berpasangan pada atom atau
ion diberikan oleh :
|
µ = 2
|
Keterangan
: S = banyaknya spin dari semua electron tidak berpasangan (n x
).
Untuk
menerapkan gagasan tersebut, maka diberikan contoh tembaga(II) sulfat, CuSO4.5H2O.
Dari suspectibilitas magnetic, harga momen magnetiknya adalah 1,95 BM. Harga
ini hanya sedikit lebih tinggi daripada harga terhitung bagi satu electron
tidak berpasangan, selisih dapat disebabkan oleh sumbangan gerakan orbital dari
electron. Jadi sifat magnetic CuSO4.5H2O sesuai dengan
adanya ion Cu2+ yang harus memiliki konfigurasi [Ar] 3d9,
dengan satu electron tidak berpasangan.
|
Jumlah electron tidak berpasangan
|
S
|
µ (BM)
|
|
1
|
|
1,73
|
|
2
|
1
|
2,83
|
|
3
|
|
3,87
|
|
4
|
3
|
4,90
|
|
5
|
|
5,92
|










0 komentar
Posting Komentar