I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
sistem periode unsur, salah satunya kita mengenal unsur-unsur transisi.
Unsur-unsur transisi ternyata memiliki sifat-sifat unsur transisi adalah
kemampuanya membentuk berbagai jenis senyawa, Karen aunsur ini memiliki
beberapa bilangan oksidasi yang terjadi karena seluruh atau sebagian dari
elektron-elektron pada kulit ketiga dapat digunakan bersama-sama dengan
elektron pada kulit 4s untuk membentuk senyawa-senyawa kompleks yang
beranekaragam.
Banyak
Ion logam khususnya logam peralihan, mempunyai kemampuan membentuk ikatan
dengan gugus penyumbang elektron (ligan) jumlah ligan yang terkordinasi dan
penyebaran geometris ligan ini disekitar logam merupakan ciri yang membedakan
sebuah ion kompleks dari ion kompleks lainnya. Untuk memahami reaksi yang
terjadfi pada pengaruh ligan terhadap warna ion kompleks, maka dilakukan
percobaan sebagai berikut.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah mahasiswa mampu mempelajari pengaruh ligan
terhadap warna ion kompleks melalui percobaan.
IV. PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Bedasarkan
percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengamatan sebagai
berikut:
|
Percobaan
|
Hasil
Pengamatan
|
|
FeCl3 + NaCl
(orange) (bening)
|
FeCl3 berwarna orange
kecoklatan (++)
|
|
FeCl3 + H2O
(orange) (bening)
|
Kuning kecoklatan (++++)
|
|
FeCl3 + KSCN
(orange) (bening)
|
Hijau kecoklatan
|
|
FeCl3 + H2C2O4
(orange) (bening)
|
Kuning pudar
|
|
FeCl3 + NH3
(orange) (bening)
|
Coklat
|
|
FeCl3 + CuSO4
(orange) (biru)
|
Hijau
|
4.2 Pembahasan
Salah
satu sifat unsur transisi adalah kemampuanya membentuk sebagai jenis senyawa,
karena unsur-unsur ini memiliki bilangan oksidasi yang terjadi karena seluruh
atau sebgian dari elektron, elktron pada kulit ketiga dapat digunakan
bersama-sama dengan elektron pada kulit 45 untuk membentuk senyawa-senyawa
kompleks yang beranekaragam warna. Dalam percobaan ini dipelajari pebedaan
warna dengan beberapa jenis ligan.
Adapun
langkajh kerja yang harus dilakukan yaitu memasukan larutan FeCl3
yang telah disiapkan. Ketiga masing-masing dengan 1ml larutan FeCl3
tadi diisi dengan satu jenis ligan yang telklah disiapkan. Jenis-jenis ligan
yang telah dfisapkan yaitu larutan ammonia 1M, larutan KSCN 1M, larutan CuSO4
1M, larutan NaCl, larutan oksalat 1m dan aquades. Keempat, melakukan pengamatan
terhadap warna kompleks untuk setiap percobaan (15 menit). Bedasarkan percobaan
yang telah digunakan maka diperoleh hasikl bahwa larutan FeCl3
mengalami perubahan warna setelah ditetesi dengan keempat larutan ligan tadi.
Larutan FeCl3Mengalami perubahan
perubahan warna bewarna orange, setelah ditetesi dengan larutan NaCl
tadi w2arnanya berubah menjadi kuning kecoklatan tadi. Larutan FeCl3
yang ditetesi H2O juga berwarna kuning kecoklatan tetapi lebih pekat
dari perubahan warna pada FeCl3
ditambah NaCl. . Larutan FeCl3 yang dirtetesi KSCN warnanya berubah menjadi
hijau kecoklatan. Larutan FeCl3 ditambah H2C2O4
warnanya berubah menjdi kuning pudar. Kemudian FeCl3 ditetesi NH3 warnanya menjadi
kecoklatan dan FeCl3 ditetesi CuSO4 warnanya berubah
menjadi hijau. Dari sinilah didapat dilihat bahwa penambahan ligan pada larutan
FeCl3 menghasilkan warna-warna yang berbeda pada ion kompleks.
Banyak
ion logam peralihan mempunyai kemampuan komponen membentuk ikatan dengan gugur
penyumbang elektron (ligan). jumlah ligan yang terkordinasi dan penyebaran
geometris ligan ini disekitar logam merupakan ciri yang membedakan sebuah ion
kompleks dari ion kompleks lainnya.
beberapa
ligan mempunyai lebih dari satupasangan elektronuntuk disumbangkan. Ligan
multidetrarelal ini dapat terikat serentak pada dua posisi atau lebih dalam
lengkungan kordinasi ion logam padat. Pengikatan berganda ini menghasilkan ion
kompleks dengan bentuk cairan cincin yang terdiri dari 5 atau 6 anggota yang
disebut kelat.
untuk
meamai satu ion kompleks diperlukan penerapan seperangkat aturan tertentu.
Aturan ini digunakan sebagai petunjuk jumlah dan jenis ligan, bilangan oksidasi
ion logam pusat dan apakah ion kompleks bersifat netral anion atau kation.
Pada
posisi lengkung kordinasi ion pusat dimana pengikat ligan dapat terjadi tifdak
selalu ekuivalen. Pada koisomeran geometris terdapat struktur yang berbeda,
hasilnya mempunyai sifat yang berbeda, hasilnya mempunyai sifat yang berbeda
pula, tergantung dimana pengikatan terjadi. Bentuk keisomeran yang lain
tergantung pada factor tertentu, seperti atom gugus ligan dimana ikatan terjadi
dan apakah gugus terjadi didalam atau diluar lengkung kordinasi ion logam
NH3Cl
NH3Cl
Cl
Struktur
ion kompleks dapat diuraikan dengan pendekatan skema hibridisasi orbital
menggunakan teori ikatan valensi. Suatu teori yang lebih berhasil menjelaskan
sifat magnetis dan sifat ion-ion kompleks ialah toeri medan Kristal, yang
menjabarkan pemisahan tingkat energy sebagai akibat tolak menolak Antara elektron pusat dan
elektron ligan. Pada pemisahan yang berbeda dihasilkan dari struktur geometri
yang berbeda.
Penyerapan
radiasi elektromagnetik dalam ion yang dapat terpisahkan dari satu tingkat
energy ke tempat energy lainya. Komponen cahaya terserap dari energy transisi
pada panajang gelombang cahaya tampan cahaya yang diteruskan akan berwarna
(Petrucci, 1992).
Pada
awalnya G.N Lewis dan N.V Sidwick mengemukakan pengertian nomor atom efektif
untuk menjelaskan ikatan pada ion kompleks, yang kemudian dilanjutkan dengan
teori kordinasi yang dikemukakan oleh Alfrod Worner. Dengan berkembangnya teori
atom dan ditemukannya sifat-sifat ion kompleks yang tidak dapat dijelaskan
melalui teori kordinasi yang dikemukakan worner, maka meujuk beberapa teori.
Sifat-sifat
kompleks seperti bentuk geometri, warna, kestabilan dan sifat magnet dapat
dijelaskan melalui pendekatan yang menggunakan teori ikatan valensi, teori
orbital molekul dan teori medan listrik.
molekul
NH3 yang mempunyai sepasang elektron bebas, dapat berikatan dengan
ion positif dengan cara menyumbangkan pasangan elektron bebas tersebut pada ion
lain dan membentuk ikatan kovalen kordinasi. Dengan atom NH3 dapat
membentuk ikatan kovalen kordinasi.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang
diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Penambahan
ligan pada senyawa atau larutan FeCl3 menyebabkan terjadinya
perubahan warna.
2. Dari
cepat dan lambatnya perubahan warna yang didapat kita ketahui, warna ligan kuat
(cepat perubahan warnanya) dan ligan lemah (lambat perubahan warnanya).
3. Perubahan
warna paling cepat terjadi pada saat penambahan KSCN
4. Urutan
kekuatan ligan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
SCN- > SO42-
> NH3 > C2O42- > H20
> Cl-
3.2 Saran
Dalam makalah ini banyak kelebihan dan
kekurangan dalam isi materi maupun bobot dari makalah ini masih kurang dari apa
yang seharusnya. Maka kami mohon sarannya agar kedepannya dalam penulisan dan
penyusunan makalah ini lebih baik lagi dan lebih bermutu lagi.










0 komentar
Posting Komentar